Siapa dan bagaimana
Gunung Batur serta Beliau yang bersemayam di Pura Ulun Danu Batur,
tersirat pula dalam salah satu bagian: Raja Purana Pura Ulun Danu Batur
-- Purana Tatwa. Begitu pula, uraian ini sangat populer di sekitar
pemuja Pura Ulun Danu Batur.
Kisahnya adalah:
Tersebutlah tiga putra Bhatara Indra yang berstana di Pura Tirta Empul,
Tampaksiring, Gianyar, bertanya pada kakeknya Hyang Pasupati di Gunung
Semeru. 'Mohon maaf Kakek Bhatara, siapakah gerangan ayahanda cucunda?'
'Oh
kalau itu cucunda tanyakan, biar nanti bibi yang mengantar cucunda
menjumpai ayahanda'. 'Nah nanda I Ratu Ayu Mas Membah (sebutan Bhatari
Dewi Danu), sekarang berangkatlah ke Tirta Empul antarkan kemenakan
nanda menghadap ayahandanya.'
Demikianlah I
Ratu Ayu Mas Membah berangkat ke Bali diiringi ketiga putra Bhatara
Indra serta I Ratu Ayu Arak Api. Tak terkisahkan di jalan ketiganya
telah tiba di stana Bhatara Indra di Tirta Empul, dan langsung menghadap
Bhatara Indra. 'Oh dinda Dewi datang, siapa kiranya anak tampak ketiga
ini?'.
'Oh kanda tidak kenal, inilah ketiga
putra kanda yang yang semula di Semeru bersama ayahanda'. 'Oh begitu,
kemarilah Nanda bertiga maaf ayahanda sudah tua, dan pandangan ayah
sudah berkurang'.
'Nah, nanda yang tertua,
ayah tak punya apa-apa, kiranya apa yang akan nanda minta?'. 'Mohon maaf
ayahanda dan kiranya ada nanda memohon goa yang besar serta air suci'.
'Oh kalau itu, baiklah, kini ayah beri nama nanda I Ratu Gede Gunung
Agung, dan di sanalah nanda menetap di bekas tempat ayah di pertengahan
Gunung Agung, dan ini air suci, nanti beri nama tirta Mas Manik Kusuma.'
Begitulah, beliau lantas berstana di sekitar pertengahan Gunung Agung.
Selanjutnya, 'Nanda yang kedua I Gede Nengah, apa yang nanda minta?'.
'Hamba juga minta air suci'. 'Nah nanda I Gede Nengah tempatkanlah air
suci ini di barat laut tempat ibunda, dan beri nama tirta Mas Manik
Mampeh. Letaknya di barat laut Danau Batur.'
'Nah
nanda yang terkecil namun badannya terbesar apa yang nanda minta?'.
'Nanda minta balai agung'. Beliau diberikan dan distanakan di Manukaya.
Lalu, Bhatara Indra meminta Mangku Pucangan agar mengantarkan I Ratu Ayu
Mas Membah menuju tempatnya. Beliau dijunjung menuju arah timur laut,
di suatu tempat. Karena kepayahan menjunjung I Ratu Ayu Mas Membah
istirahat sambil nafasnya 'ah-ah, ah', sehingga tempat itu disebut
Basang Ah.
Perjalanan dilanjutkan dan tiba di
Desa Pengotan. Saat itu penduduk sedang rapat. Mangku Pucangan berkata:
'Tuan berhenti sebentar bersidang, ini Paduka datang'. Mereka tertawa
karena melihat wujud Ida Bhatari layaknya ukiran janur yang dijunjung
oleh Mangku Pucangan. 'Oh ha, ha, ha dimana ada Bhatari, orang
menjunjung sampyan (ukiran rontal) banyak capak'. Ida Bhatari berkenan
menunjukkan wajah aslinya dan berkata, 'Nanti jika kalian semua memuja
kepada-Ku, masih di pintu gerbang akan diterbangkan angin'. Begitulah
yang terjadi sampai saat ini, biasanya sesaji warga Pengotan, hancur di
candi Pura Ulun Danu Batur.
Perjalanan
dilanjutkan. Sampai di Penelokan Mangku Pucangan melihat air payau
sangat luas dan Bhatari Ratu Ayu Mas Membah meminta mencari benang dan
bulu ayam. Benda tersebut dilemparkan ke tengah payau lalu benang
tersebut diikuti oleh Mangku Pucangan. Tepat di tengah air payau Beliau
berkata, 'Sudahlah Mangku Pucangan tempatkan Aku di sini'.
Begitu
Beliau diturunkan, mendadak tempat ini makin tinggi terus menjadi
sebuah gunung tepat di tengah payau (danau). Gunung itu diberi nama
Gunung Tempur/ Tempuh Hyang. Artinya bekas pijakan kaki Ida Bhatari,
sehingga menjadi Gunung Tampur Hyang. Nama lain dari Gunung Tampur Hyang
adalah Gunung Lebah yang artinya sebuah gunung yang letaknya di dataran
rendah, serta Gunung Sinarata -- yang diartikan oleh masyarakat Batur
'gunung yang mendapat sinar matahari secara merata'.
Demikianlah
ceritanya, dan secara berkelanjutan akibat letusan Gunung Batur, mereka
berpindah ke atas, serta puranya bernama Pura Ulun Danu Batur yang
pujawalinya jatuh setiap Purnama Kedasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar